Pages
Hari kedua setelah lebaran saya dan teman kantor tetap memutuskan untuk menikmati lenggangnya Jakarta kembali hilir mudik dari satu tempat papan atas ke tempat papan atas lainnya dan saya menemukan both boneka Russia atau Matryoshka doll. Cute stuff is like cryptonite for my pocket tapi untungnya kali ini saya lebih kuat dari superman, sekalipun tertulis disc 30% akal sehat lebih juara untuk berkata tidak pada boneka kayu rakyat dengan harga selangit but hey their so adorable.
Hari pertama setelah lebaran ternyata kantor hanya di isi tidak lebih dari tujuh orang saja, dari pada manyun di kantor saya bersama tiga orang teman memutuskan untuk bersenang-senang di tempat favorite warga ibu kota kelas atas. Mulai dari Gandaria City sampai Grand Indonesia kami sambangi sekadar menghilangkan kebutekan dan juga menghilangkan uang THR dari dompet.
Pukul
dua pagi, saya memutuskan untuk pergi dari rumah dan kembali menikmati
Jakarta yang lenggang di kala lebaran. Namun apa dikata, ternyata semua
bus di terminal habis untuk mudik, hingga akhirnya saya memutuskan untuk
menggunakan moda transpotasi paling menyesakan dada di kala hari normal,
yakni kereta api.
Sepi itu menyenangkan, andai setiap hari bisa seperti
ini, impian busuk di tengah 250 juta manusia yang terus berkembang biak. Just enjoy the picture.
Museum bank Indonesia terletak di jalan pintu besar utara no 3 atau tepat di seberang statiun jakarta kota dan di luar area kota tua, museum bank Indonesia sendiri pada intinya adalah menampilkan sejarah Indonesia melalui perekonomian dan sejarah dari bank Indonesia itu sendiri. Secara keseluruhan ini adalah salah satu museum terbaik di Jakarta dan merupakan yang termodern, mulai dari penempatan display dan barang koleksi yang lebih banyak menggunakan pencahayaan dan teknologi. Sebelum masuk kita akan diminta untuk menaruh tas di tempat penitipan karena tidak boleh membawa apapun kecuali dompet dan barang berharga ke dalam.
Walaupun tergolong modern dan megah museum bank Indonesia is free of charge aka gratis, cuma perlu mengisi buku tamu saja. Benar saja waktu isi buku tamu ternyata museum ini sepi pengunjung, bahkan resepsionisnya bilang "anda mahasiswa dari mana?" mungkin saking tidak pernah ada orang dewasa yang datang. Waktu saya datang hanya ada segerombolan anak-anak dari sekolah chinese dan satu keluarga bule, padahal hari itu minggu loh seharus tempat sebagus ini jadi menu wajib rekreasi keluarga.
Pertama kali masuk kita akan bertemu dengan ruangan bioskop sayang seribu sayang, ruang theater ini tidak dihidupkan filmnya mungkin karena sepi pengunjung. |
Bagian pertama dari museum ini menyuguhkan cerita sejarah dari awal VOC datang namun lebih menekankan pada perdagangan dan perekonomian. |
![]() |
saya suka bagaimana museum ini membuat kita melihat sejarah dari sisi yang berbeda, bagaimana perekonomian Indonesia melalui masa penjajahan sampai masa kemerdekaan. |
Koleksi paling menarik terdapat balik pintu brangkas ini |
ini bukan slot mesin jackpot seperti yang ada di las vegas, di dalam ruang kaca ini terdapat uang dari seluruh periode, mulai dari lembar pertama sampai yang terbaru di pamerkan. |
Ok i found this sign out side, doesn't this look like something from egypt or may i called part of illuminati? |
The Building
Benteng Marlborough sebenarnya lebih pantas sebagai peninggalan budaya dari pada museum tapi pengelola merubah benteng yang di bangun tahun 1713-1719 menjadi sebuah museum sejarah Bengkulu, museum ini menyimpan koleksi semasa Inggris menguasai Bengkulu. Hanya saja memang tidak begitu banyak barang yang tersisa paling hanya meriam dan beberapa peluru yang disimpan pada ruang bawah tanah yang dahulunya berfungsi sebagai penjara. Terdapat satu ruangan yang diisikan poto-poto bagaimana Inggris datang menguasai Bengkulu, sekalipun minim koleksi benteng Marborugh memang bukan museum sejati. Nilai jual tempat ini bukan dikoleksinya, yang menarik justru terletak pada benteng itu tersebut. Bangunan yang ekstra luas dan menjulang ini bak castil yang ada di dongeng-dongeng eropa. Belum lagi letaknya yang dipinggir laut membuat benteng Marlborough menjadi menu wajib bagi traveller, tapi jika anda pecinta museum memang tidak terlalu bisa menghibur hati. Saya amat menyarankan untuk datang pada sore hari saja selain untuk menghindari panas dan keramaian, menikmati matahari tenggelam di benteng Marborough adalah pengalaman yang tiada duanya.
Ini adalah landasan putar 180* bagi meriam |
Heran aja beneran ada kerangka manusia di tiga makam semen ini? |
![]() |
A view to the sea |
![]() |
Benteng Marlborough memang tidak punya koleksi untuk dibanggakan tapi sunset di benteng ini juara abis. |
Target saya kali ini untuk mengisi sabtu dan ngabuburit adalah museum seni rupa dan keramik, museum ini terletak di komplek kota tua saling berseberangan dengan museum sejarah Jakarta dan museum wayang. Dari tiga museum tersebut seni rupa dan keramik menempati gedung terbesar dan terbaik sayangnya malah kalah pamor dari sejarah jakarta dan wayang. Padahal secara pengelolaan museum seni rupa dan keramik jauh lebih baik, mulai dari penataan koleksi, kenyaman sampai toilet yang super bersih seluruh ruangan juga full AC.
Bahkan terdapat galery untuk seniman lokal dan tempat belajar membuat keramik, soal koleksi museum seni dan rupa menyimpan lukisan dari beberapa pelukis ternama misal Raden saleh, Basuki abdullah, Popo iskandar serta lukisan dengan nilai sejarah tinggi rata-rata berusia tua mulai dari 1900-an. Koleksi keramiknya pun bikin betah mulai dari dinasti china tempo dulu sampai jaman majapahit, keramik majapahit adalah favorite karena koleksi ini seperti yang biasa dilihat di film Indiana Jones jadi terkesan seperti museum purbakala. Tapi sayang seribu sayang ternyata kita tidak boleh foto-foto di dalam museum ini, begitu tanya sama penjaganya dia bilang "pakai kamera HP aja, kalau itu ngga apa-apa". Yuk mareee...mau ngga mau ya cuma bisa mengandalkan samsung galaxy Y dengan kualitas photo seadanya. Kalau ada yang pecinta seni, museum seni rupa dan keramik ini well recomended banget, sayang art ngga pernah jadi bagian hidup orang Indonesia alhasil sepi dah museum ini.
![]() |
My favorite painting, wonder if they were being sell? |
Here the history |
Subscribe to:
Posts (Atom)