Pages
Baru sadar kalau ternyata selama perjalanan keliling sumatera saya pernah mengunjungi sebuah semi museum yang menyimpan berbagai peninggalan presiden Soekarno selama masa pengasingannya di Bengkulu, tidak banyak yang bisa di lihat, selain berbagai macam barang-barang yang ada di kehidupan Soekarno selama diasingkan. Sayangnya di bagian belakang saya melihat langkah desperate pengelola yang menambahkan atraksi sumur ajaib, padahal waktu saya berkunjung yang datang tidak sepi-sepi amat. Mengingat tidak banyak museum di Bengkulu.
Hari pertama puasa saya memutuskan untuk datang ke museum terdekat dengan tempat kosan, belum lagi kalau mau pulang ke statiun tanah abang selalu lewat tempat ini. Museum tekstil jakarta terletak di jl.ks tubun no.2-4 jakarta barat (click for detail museumtekstiljakarta) saya datang sekitar pukul 11 siang begitu beli tiket di loket seharga Rp2000 saja, penjaga loketnya langsung bengong. Belakangan saya tahu kalau museum ini sepi pengunjung dan si penjaga loket kasih ekpresi "ngga salah nih dateng?", walaupun koleksinya tergolong minded banget ya cuma kain-kain saja. Tapi museum tekstil ini bersih dan rapi belum lagi terdapat taman yang nyaman, hanya saja ketika saya datang banyak yang tidak di buka. Seperti workshop batik, tempat souvenir dan ada beberapa bangunan yang saya sendiri sampai harus buka-buka pintu saking penasaran isinya apa.
Bagian belakang
Galeri Batik
In case ada yang heran tentang sejarah museum tekstil
Sayang banget padahal museum tekstil ini tergolong ok, berhubung saya memang tidak begitu tertarik dengan kain di tambah seperti zombi di kota mati. Cukup 30 menit menikmati museum tekstil jakarta, kalau saja ada cafetaria atau tempat nongkrong pasti saya lebih lama. Tempatnya inspiring tenang dan adem cocok buat nulis.
Ini adalah pengalaman saya ketika memilih kamera proconsumer DSLR dengan kisaran harga dibawah 4 jeti, overall ada 5 merk yang wajib kalian pertimbangkan dengan catatan ke 5 kamera ini adalah untuk proconsumer practice with limited budget. Note proconsumer DSLR berbeda dengan DSLR, letak perbedaan mendasar adalah proconsumer DSLR tidak bisa untuk diganti lensanya, sementara pure DSLR interchangeable jadi pure DSLR dengan SLR hanya memiliki perbedaan mencolok pada ukuran dimana DSLR berukuran camera pocket.
Jika berbicara soal kemampuan proconsumer DSLR dengan pure DSLR tidak memiliki perbedaan significan hanya saja kemampuan proconsumer terbatas karena tidak mampu berganti lensa layaknya pure DSLR, karena kemampuan yang tidak bisa di upgrade ini maka memilih camera proconsumer menjadi faktor penting terlebih ketika mentok di kantong.
Canon Powershot G12
Pilihan pertama jatuh pada canon powershot G12 kualitas gambar yang tidak perlu diragukan lagi Hal ini membuat G12 ada di daftar pertama jika mau membeli proconsumer DSLR, jadi jangan heran kalau pricetag berkutat di angkat Rp 4.200.000.- 3.999.000. Kendala utama G12 memang terletak pada harganya yang mahal dan hanya mampu 5x zoom belum lagi tetek bengek lain misal flash dan underwater housing bisa-bisa kantung jebol sampai lima juta. Tapi secara keseluruhan you get what you pay.
Menurut saya:
Sebernarnya saya tidak terlalu suka dengan G12 ini karena cenderung lebay, warna-warna yang dihasilkan untuk photo indoor berbeda terlihat mencolok sekalipun detail sangat juara. Hal ini mungkin akan terlihat bagus bagi para anak muda yang gemar dengan burst colour atau ledakan warna mencolok. Namun jika anda traveller seperti saya tentu akan bete dengan warna lebay ini belum lagi dengan hanya 5X zoom.
Nikon Coolpix P510
Posisi kedua dipegang oleh Nikon coolpix P510 dengan pricetag Rp 3.400.000, coolpix P510 menjadi most wanted item persediaan di beberapa toko kamera sulit bahkan beberapa toko yang saya hubungi sudah 6 bulan belum ada stock. Superzoom 42X LCD yang mampu dilipat, GPS, viewfinder adalah fitur komplet yang sulit di tolak dengan harga segitu. Masalah ada pada kualitas photo yang satu tingkat di bawah powershot G12 beberapa review menyatakan coolpix P510 memiliki banyak noise pada hasil photonya.
Menurut saya:
Kelebihan coolpix P510 hanya pada value addednya saja dengan harga segitu kita sudah bisa dapat viewfinder, GPS, LCD lipat serta superzoom 42X namun untuk kualitas photonya memang tidak terlalu wah. Beberapa kali saya coba untuk photo outdoor terus terang sulit untuk membedakan dengan hasil jepretan camdy biasa.
Olympus SP-810 UZ
Olympus SP-810UZ adalah salah satu kamera dengan superzoom pertama yang muncul dipasaran, proconsumer DSLR dengan pricetag Rp 3.000.000 saja ini memiliki kelemahan fatal dengan tidak adanya viewfinder. Jadi kita harus selalu melihat LCD selebar 3 inch untuk memfoto dan ini cenderung membuat boros baterai, ini pula sebabnya Olympus berada di bawah coolpix P510 padahal kualitas poto berada di atas coolpix P510 dengan lebih mampu memberikan detail. Banyaknya fitur yang disunat membuat SP-810UZ ogah di incar pembeli.
Menurut saya:
Tapi di luar kelemahan tanpa viewfinder, GPS dan LCD lipat Olympus SP-810UZ ini berbentuk ringkas seperti G12. Hasil photo outdoor yang mampu menghasilkan warna sesuai aslinya serta sangat detail belum lagi kemampuan superzoom yang mampu mencapai kulit bulan menjadikan Olympus SP-810UZ kamera wajib bagi travellers. Satu hal yang membuat saya lumayan bete adalah terlalu sensitif mudah goyang jadi pastikan anda menggunakan tripod atau aktifkan fitur AF mode track jika tidak ingin photo anda kabur.
Nikon Coolpix L810
Dengan pricetag hanya RP 1.800.000 Nikon coolpix L810 mungkin menjadi proconsumer DSLR termurah di pasaran, walau begitu coolpix L810 merupakan proconsumer DSLR dengan pixel terbesar yakni 16 megapixel. Coolpix L810 mempunyai beberapa minus yang membuatnya malah terlihat seperti camera digital biasa, tidak ada viewfinder, hanya 26x zoom dan yang terparah masih menggunakan empat buat baterai. Kendati diklaim mampu menghasilkan 1000 shot, bayangkan menggunakan superzoom 26X, LCD 3 inch dan flash belum lagi video dengan hanya mengandalkan empat buah baterai?.
Menurut saya:
Coolpix L810 bagai buah simalakama satu sisi mengunakan baterai membuat anda bisa dengan mudah dan cepat menggantinya jika habis tanpa harus mencharge tapi tentunya daya tahan baterai tidak akan seawet baterai li-po dan lithium. Bisa diakali dengan membeli empat buah baterai lithium beserta chargernya namun itu artinya anda harus mengeluarkan uang extra. Sedang untuk kualitas photo terus terang dari kacamata saya sih tidak ada bedanya dengan saudara P510 ini adalah versi mumer yang disunat fitur-fiturnya singkat kata Coolpix L810 menjadi proconsumer DSLR yang cocok bagi anak remaja dengan koran sekolahnya.
Fujifilm Finepix HS20EXR
Sebenarnya wajar finepix ini dibandrol Rp 3.999.000 fiturnya selengkap dengan coolpix P510 hanya saja kualitas serta branding fujifilm yang masih kalah dibanding canon, nikon dan olympus. Review dari mbah google menyatakan noise semakin terlihat seiring dengan bertambah besarnya ISO dan yang tidak masuk akal dengan fitur komplet finepix HS20EXR ini hanya bermodalkan tenaga dari empat buah baterai alkaline? sekalipun bisa pakai baterai recharge dengan fitur seabrek ini empat buah baterai bisa tahan berapa jam? coolpix P510 saja sudah pakai baterai lithium dengan harga lebih murah.
Menurut saya:
Terus terang saya tidak tahu kualitas photo karena lihat merknya saja saya sudah malas namun di kisaran harga segitu dengan fitur sama banyak merk apa lagi? sialnya pemakaian empat buah baterai AA semakin mengurangi minat saya untuk mencoba.
Jadi apa yang saya beli?
Pertimbangan saya pertama ada ya apa lagi kalau bukan duit, lalu kebutuhan saya sebagai tukang jalan-jalan. Pilihan hanya jatuh apa coolpix P510 dan Olympus SP 810-UZ sementara G12 lupakan saja selain harganya selangit 5X zoom terasa sia-sia bagi saya.
Pilihan saya jatuh pada Nikon coolpix P510 karena fiturnya yang komplet abis sekalipun kualitas photo memang tidak juara namun bagi mata awam tidak akan begitu terasa. Setelah menunggu berbulan-bulan coolpix P510 tidak juga kunjung tersedia di Jakarta, mungkin semua orang sama pintarnya dengan saya hingga barang ini sold out. Dari pada terlalu lama bengong akhirnya saya memutuskan untuk mengambil Olympus SP 810-UZ dan overall saya puas dengan performa serta kualitas photonya, bahkan saya sekarang jadi stalker apartemen tetangga thanks to 36X superzoom.
Saya putuskan untuk menjajal camera olympus SP-810UZ, ditempat yang sudah sejuta kali di kelilingi tapi baru sekali di explore. Ini adalah kali pertama saya, mencoba untuk tidak sekadar melalui jalur umum, tapi juga masuk ke pelosok kebun raya. Pada akhirnya saya tahu kalau setiap sudut dijaga oleh tentara dan saya juga kerap bertemu pasangan yang sedang mojok. Entah lagi ribut, atau memang mereka terlalu bokek untuk pacaran di mall dan sewa kamar hotel.
note: pakai DSLR ternyata lumayan susah, saking desperatenya mengatur iso serta eksposure. Akhirnya saya menyerah pada auto mode dan filter gaul, yang tersedia di Olympus ini.
Hampir lupa buat posting yogyakarta poto ini gua temuin pas back up handphone, gua lupa mungkin ini sekitar lima bulan atau tujuh bulan yang lalu ketika gua dan campers sewa becak buat keliling kota sambil ambil stockshoot icon yogyakarta. Entah kenapa gua rasa kota ini sedikit mengingatkan ama bali sayang yogya jauh dari pantai.
Tadinya gua mau kasih editan dengan kesan ceria, berhubung ini diambil pake samsung galaxy young ngga ada pilihan selain bikin poto-poto ini old skool. Kamera pamungkas gua "casio exilim pink" lupa di bawa karena buru-buru kejar campers.
Desa Benteng Alla
Gua harusnya post ini beberapa bulan yang lalu, trip ke Makassar atau lebih tepatnya Enrekang adalah trip terakhir karena gua memutuskan untuk pindah bagian. Diperlukan waktu tempuh sekitar 3 jam lebih dari Makassar menuju daerah Enrekang, sementara desa yang gua tuju yakni desa Benteng alla adalah sebuah desa yang di kelilingi oleh perbukitan. Jalur menuju Benteng alla ngga ada yang bagus jadi kita memang harus menderita untuk bisa mencapai desa ini, karena di bentengi oleh perbukitan maka desa ini hanya punya satu titik spot dimana sinyal handphone bisa masuk itupun hanya telkomsel saja.
Seperti tempat terpencil lainnya desa Benteng alla menawarkan pemandangan menakjubkan, ini adalah satu-satunya tempat di mana gua bisa dengan mudah liat langit yang biru segar membentang sepanjang hari.
Karena terletak di dataran tinggi Enrekang, desa Benteng alla panas di siang hari dan suhu akan turun menjadi minus di malam hari. Bahkan pakai jaket dan sarung pun belum cukup untuk menahan hawa dingin. Kalau dari desanya sendiri memang tidak ada yang begitu menarik, Benteng alla adalah tempat yang cocok bagi para pecinta sport seperti gantole atau paralayang. Langit biru dan landscape yang luas menjadi tempat yang tidak di miliki tempat gantole atau paralayang lait bahkan puncak saja tidak bisa di bandingan dengan Benteng alla, fitur lainnya yang bisa menunjang air sport adalah banyaknya angin karena memang ini dataran tinggi.
Pantai Bajo
Ditengah-tengah antara Makassar dan Enrekang terdapat daerah pantai yang banyak tempat makan dengan spot dasyat, namanya pantai Bajo kalau lagi sunset viewnya ngga kalah dari pantai sanur. Amat disarankan buat istirahat dulu sebentar sambil pura-pura berada di Bali.
Pelabuhan Paotere
Selepas dari daerah terpencil Enrekang gua dan kru balik ke Makassar, di sini ada sebuah pelabuhan yang dulunya merupakan tempat pertama kali perahu phinisi bersandar namanya pelabuhan paotere.
Untuk bisa masuk kita cuma perlu bayar retribusi saja, awalnya gua pikir perahu-perahu yang lagi bersandar ini adalah kapal phinisi tapi kata producer gua "bukan ini mah kapal tongkang". Gua belum pernah liat kapal tongkang segede kapal ferry, sayang banget ngga nemu kapal phinisi.
Pelabuhan yang juga dipakai sebagai tempat untuk latihan poto-poto bahkan di kunjungi wisatawan asing ini memang terlihat ngga keurus dan nampak kumuh, sehari-hari pelabuhan paotere di jadikan tempat bongkar muat berbagai kebutuhan pokok kota Makassar.
Disarankan datang pagi hari saja jika memang mau lihat pelabuhan paotere, selain panas minta ampun paotere pun penuh dengan debu. Tapi kalau memang pecinta photography tempat bersandar kapal tongkang ini memang jadi menu wajib.
Makassar oh Makassar
Secara keseluruhan Makassar terlihat seperti Bandung yang kurang terawat, kotanya ngga terlalu panas dan ngga sumpek bahkan kemacetan jarang terjadi. Pengamen dan pengemis pun jarang terihat di sudut kota tapi kota ini sepertinya memang sedang berkembang, karena banyak sekali tempat-tempat yang ngga kerawat. Seperti pantai Losari salah satu icon kota ini terlihat lusuh, kotor dan berantakan bahkan dijadikan tempat anak jalanan untuk berkumpul dan meminta-minta pada pengunjung. Padahal kalau mau jujur Losari bisa di ubah menjadi seperti Marina sand bay.
Sayang banget kota dengan banyak potensi wisata ini nampak kurang terawat, padahal Makassar mirip sekali dengan California yang sama-sama terletak dekat pantai. Plus kota ini belum sumpek nampak masih banyak ruang kosong di jalanan, bahkan macet adalah hal yang sulit di temui bukan makanan sehari-hari seperti jakarta.
Subscribe to:
Posts (Atom)