Pages
Showing posts with label work and travelling. Show all posts
Showing posts with label work and travelling. Show all posts
Waktu tinggal di Bandung, saya selalu lewat Braga dan sering banget ngelewatin hotel Savoy Homann bukan, cuma melihat mata saja sebelum ke Bandung pun sering sekali hotel Savoy Hooman ini wara-wiri di dalam buku sejarah. Walaupun kelihatan tua banget semua orang juga tahu hotel Savoy Hooman nggak termasuk ke dalam budget friendly. Hotel ini dari awal dibangun memang diperuntukan untuk orang-orang dengan kantung tebal.
Kebetulan saya berkesempatan untuk tinggal selama satu hari saja di hotel Savoy Homann ini dan untuk kisaran harga 900-800 ribu, saya kira hotel Savoy Homann ini worth it banget. Karena begitu masuk ke dalam kamar, ternyata luas banget. Saya baru kali ini dapet kamar hotel seluas ini, di harga segitu. Memang hotel Savoy Homann ini jadul banget dengan interior didominasi kayu bahkan, keseluruhan Savoy Homann mengingatkan kita pada film-film jadul tahun 60an.
Kamar di hotel mana yang bisa seluas ini dengan kisaran harga segitu? Ada ruang tamu dan mini bar belum lagi, ukuran kamar mandinya pun tergolong lega. Nuansa mewah jaman jadul kental baget namun, jangan takut hotel Savoy Homann ini jauh dari kata angker bahkan, nyaman banget.
Sebenarnya setiap kamar mempunyai balkon dimana kita bisa melihat pemandangan Braga namun, entah kenapa semua balkon dikunci dan nggak bisa dibuka? Mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti loncat ke bawah? Buat kalian yang bawa banyak orang/keluarga hotel Savoy Homann ini rekomen pake banget, bisa muat banyak dalam satu kamar tapi, saya nggak tahu maksimum person in one room berapa? Dari pada pake budget friendly hotel, terus dempet-dempetan dan berkahir dengan liburan yang nggak nyaman mending sekalian ke Savoy Hooman.
Sementara untuk fasilitas hotel Savoy Hooman ini nggak jauh beda dengan hotel-hotel lain di kisaran harga segitu. Kita masih bisa dapat breakfast di resto lantai satu, yang menurut saya sih menunya biasanya banget, palingan cuma nasi goreng, sayur buncis sama daging olahan. Untungnya koki yang masak jago banget, sehingga makanan biasa tapi rasa luar biasa.
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, hotel Savoy Hooman ini kerasa banget jadulnya bukan cuma karena interior, di sini banyak banget barang-barang sejarah dari era 50an apa lagi barang-barang memorial dari zaman ketika hotel Savoy Hooman dipakai untuk Konferensi Asia Afrika di tahun 1955 bertebaran dijadikan sebagai pajangan.
Saking historisnya Savoy Hooman, kita bakal mikir dulu kamar ini pernah ditempatin sama siapa dari delegasi konferensi asia afrika tahun 1955? Siapa tahu kamarnya dulu dipakai oleh Ali Sastroamidjojo atau Jawaharlal Nehru bahkan bukan nggak mungkin malah menghabiskan liburan di dalam kamar, saking nyamannya.
Daripada wiken di Jakarta melulu,
mending coba ke Bogor. Kota Kujang dengan segala cerita ini bukan hanya pintar
menyimpan legenda tapi juga menyimpan banyak jenis makanan yang ngga boleh
dilewati begitu ajah. Karena ngga terlalu jauh dari Jakarta, jadi ambil waktu
dua hari lah wisata ke Bogornya.
Wisata kali ini sebaiknya kita
beri nama agar lebih tematik, jadi semacam ada pencanangan dalam penerapannya
(halah!!). Tapi sebelum berangkat ke bogor ada baiknya direncanakan destinasi
ini ini agar perjalanan semakin mantap dan udah siap bener sama yang namanya
macet di Bogor. Jangan lupa cek di Traveloka
hotel yang mantap untuk menginap sebelum ke Bogor.
Sesuai tema, wiskul kali ini ngga
boleh ke tempat makan yang bernuasa restoran. Wisata kulinernya kudu di warung
makan pinggir jalan. Semakin ada di pinggir jalan dengan tempat yang vintage, semakin menambah ambience wisata kuliner kali ini. Jangan
kuatir deh, makanan enak semacam soto bogor, toge goreng, es pala dan lain-lain
itu semua menikmatinya malah terasa enak di pinggir jalan. Mau tahu dimana ajah
ada warung yang menjanjikan atmosfir
seperti itu, ini dia pilihannya.
Soto Bogor Pa Salam
Mending antri selagi Pa Salam belum siap daripada kehabisan (Foto: wisataseru.com) |
Namanya juga Soto Bogor, ya
paling enak kalau makannya di Bogor apalagi di pinggir jalan, wah enak sekalai.
Nah, Soto Bogor Pak Salam di jalan Siliwangi yang posisinya persis
setelah perempatan Suryakencana - Gg. Aut, atau lebih tepat lagi ada di
seberang Bank Mandiri punya magnet tersendiri untuk orang balik lagi balik lagi
makan disini.
Kuah santan
kuning dengan harum rempah yang khas Bogor, dimana isi jeroannya bisa kamu
pilih sendiri punya daya tarik khusus. Kamu bisa tentukan pilihan daging sapi,
otak, paru, limpa, lidah, usus, babat dan kikil yang ada dimangkuk kamu sebelum
pa Salam menuang kuah yang udah bikin ngeces
sejak dia buka panci berisi kuah soto. Nasi yang selalu dia taburi bawang
goreng ini juga jadi daya tarik tersendiri.
Ngga sabar mau
ke Soto Pak Salam? Nanti dulu, Soto Pak Salam ngga buka seharian loh, warung ini setiap hari buka sekitar
pukul 4 sore. Ngga cuma tempat makan keren di mall ajah yang ramai dikerubuti
pembeli, di warung Soto Pak Salam juga orang bakal sudah ramai berkumpul sebelum dia buka
pukul 4. Bukan mau ikutin trend di mall, tapi hampir ngga lebih dari 2 jam
dagangan soto pak Salam selalu ludes, dan kalau sudah ludes apa dia mau ambil
lagi dari rumahnya? Tentu tidak. Dengan polos dia bisa bilang “maaf pak, sudah
habis”. Mau bilang apa kalau udah begitu, mau nunggu besok lagi? Jadi mending
antri ajah deh jauh sebelum pukul 4 sore.
Toge Goreng Ibu Haji Omah
Lain pa Salam,
lain ibu Haji Omah tapi masih urusan kuliner khas Bogor ini. Kenapa toge goreng
di rumah makan Ibu Haji Omah punya rasa yang khas dan berbeda dengan toge
goreng lain? Toge yang diproses disini masih segar dan direbus dengan
menggunakan kayu bakar, djamin alami deh rasanya.
Setelah tidak
lama direbus, toge yang matang pas itu diletakkan di atas mie dengan potongan
lontong yang sudah disiapkan pada piring saji. Nah klimaks dari penyajian toge
goreng ini adalah prosesi sakral ketika bumbu tauco asli yang rasanya cukup
pedas itu dituang menyirami tumpukan lontong dan toge yang telah bertemu di
piring tadi, alamaaaaak, bikin ngeces ini.
Sayangnya warung
toge goreng ini ngga pernah buka sampai larut, jadi kamu hanya bisa menyambangi
warung makan ini antara pukul 9 pagi sampai pukul 5 sore. Urusan harga, ngga
usah merogoh kocek terlalu dalam, harganya ngga sampai 20.000 per porsi untuk
ukuran toge goreng enak alami sepert ini. Oh iya, satu lagi yang menarik, kalau
kamu beli toge goreng ini dibungkus, kemasan bungkusnya menggunakan daun Patat
sehingga rasa bumbunya masih terjaga sampai rumah.
Jangan terlalu
sore tiba di warung ini, sebab biasanya sebelum pukul 5 sore sudah habis (Foto:
hunger ranger)
Es pala Bu
Aisyah
Acara Wow Wiskul
Wiken Keren Warung Bogor kayaknya ngga berhenti di Es Pala Bu Aisyah, sekitar
jalan Aut masih banyak warung makan yang harus dicoba, makanya jangan buru-buru
pulang, sebab sekitar jalan itu juga banyak kuliner pagi yang bisa dinikmati. Pilihan
menginap di Hotel Horison Bogor udah bener. Biasanya di Traveloka ada promo,
untuk itu sebaiknya booking beberapa hari sebelum wiskul dimulai. Hotel Horison
Bogor adalah hotel di Bogor yang pas untuk
kamu beristirahat hingga esok pagi bisa terus menikmati wiskul wiken keren di
Bogor.
Jangan lihat
lapaknya yang begitu sederhana, sebab di awal tadi sudah sepakat semakin
sederhana warung tujuan kita, semakin bikin destinasi berkesan. Gimana tidak
berkesan, secara Bogor adalah kota hujan, yang namanya penjual es, biasanya
udah ngerih sama hujan, tapi es pala Bu Aisyah beda. Gemuruh hujan bukannya
bikin pelanggan pergi menjauh justru saat hujan malah makin ramai mengerubungi
si penjual. Patut dicoba nih, apa yang bikin Es Pala Bu Aisyah malah laku saat
hujan.
Segernya udah
kebayang, manis-manis asemnya juga kebayang, tinggal cobain es ini di waktu
hujan, pasti tambah seger (Foto: Kompas)
Baca Juga : Wahana Retro di Taman Topi Bogor
Baca Juga : Trip ke Desa Benteng Alla Sulawesi
Baca Juga :Kaum Urban di Kampung Areng Desa Cibodas
Baca Juga : Trip ke Desa Benteng Alla Sulawesi
Baca Juga :Kaum Urban di Kampung Areng Desa Cibodas
Bagi warga Bogor tentunya nama pecinan Suryakencana sudah tidak asing lagi, dahulu mendiang Mama saya gemar sekali berbelanja di pecinan ini. Kalau boleh di bilang pecinan ini merupakan Tanah Abangnya Bogor, mulai dari kuliner, swalayan, toko serba ada sampai pasar basah semua tersedia komplit di Suryakencana. Nah, belakangan Walikota baru terpilih meresmikan pecinan tertua di Bogor ini menjadi sebuah ikon baru, lengkap dengan pemberian sebuah gapura megah yang menegaskan bahwa Suryakencana adalah pecinan, selain itu Walikota Arya Bima pun mengubah nama suryakencana menjadi Lawang Suryakancana.
Terus apa sih yang bisa kita temukan di dalam ikon terbaru kota Bogor ini? Terus terang awalnya saya kira Lawang Suryakancana ini adalah wajah baru penarik turis, akan ada banyak hal yang berubah dari tempat berbelanja kesukaan ibu-ibu seBogor ini. Ternyata setelah saya menelusuri Lawang Suryakancana dari awal sampai akhir, sama sekali tidak ada perubahan! Jargon mengubah nama Suryakencana menjadi Lawang Suryakancana, dan harapan untuk menjadi ikon baru kota Bogor ternyata hanya berita semata, sebab semua tetap sama di mata saya.
Tapi jangan berkecil hati dahulu begitu tahu ternyata Lawang Suryakancana hanyalah sekadar gapura megah berwarna merah, karena masih banyak yang bisa kita nikmati dari kepingan sejarah warga etnis tionghoa di Kota Bogor ini.
Sejarah
Seperti yang sudah saya sebutkan Lawang Suryakancana ini merupakan tempat pertama kali imigran tionghoa bermukim di Bogor, hal pertama yang bisa kita lihat tepat di sebelah gapura adalah sebuah vihara tertua yang bernama Dhanagun. Vihara yang sekarang sudah menjadi cagar budaya ini dulunya di sebut klenteng Ho Tek Bio, karena sudah menjadi cagar budaya maka siapapun bisa dengan mudah masuk ke vihara Dhanagun. Kalau dulu nggak sembarang orang bisa masuk sini, cuma yang mau sembayang sama latihan wushu aja. Kebetulan saya dulu ikutan wushu di klenteng ini dan biasanya ramai menjelang imlek dan cap gomeh, kalau hari biasanya tidak terlalu seru, sebab anda tidak akan menemukan ratusan lilin dan lampion menghiasi klenteng Ho Tek Bio.
Rumah Peranakan
Selain vihara Dhanagun masih bisa menikmati beberapa rumah peranakan yang masih tersisa. Sayangnya rumah peranakan ini sama sekali nggak terbuka untuk umum, padahal terdapat satu mansion peranakan dengan nilai arsitektur dan sejarah tinggi. Keluarga pemilik rumah masih meninggali rumah tersebut, ini sebabnya kondisi rumah peranakan ini amat terjaga. Kalau anda penasaran dengan bagian dalam, bisa mengintip di blog tetangga lawang-suryakancana-bogors-chinatown
Shop Till Drop
Nah, dahulu sebelum indomaret dan alfamart menjamur, satu-satunya tempat dimana terdapat mini market atau swalayan adalah di Lawang Suryakancana ini. Beberapa swalayan masih bertahan sekalipun sudah puluhan tahun, seperti swalayan ngesti. Selain itu terdapat puluhan toko yang menjual berbagai macam produk dari obat tradisional sampai dengan sepeda. Beberapa toko masih berupaya mempertahankan bentuknya, sekalipun sudah tidak lagi terlihat menarik, mereka masih memiliki pelanggan setia.
Kalau bosan berbelanja di toko bisa pergi ke pasar tradisional, di lawang suryakancana ini terdapat dua pasar tradisional yakni pasar tertib dan pasar basah. Kalau pasar tertib adalah pasar segala rupa yang tumpah ruah dan jauh dari namanya yakni tertib, sementara pasar basah yang terletak di gang ini menjual berbagai ikan dan kodok segar.
Kuliner
Bagi para pecinta kuliner Lawang Suryakancana boleh jadi merupakan surga, sebab terdapat ratusan kuliner, mulai dari yang di dalam gedung sampai yang di gerobak dari jajanan pasar sampai restauran, semua tinggal pilih saja. Zaman dahulu lawang suryakancana terkenal dengan asinan gedong dalam, namun sekarang asinan tersebut sudah pindah alamat, kendati begitu masih ada beberapa penjual asinan yang setia menamakan asinan mereka dengan gedong dalam.
Karena ini pecinan jangan heran kalau menemukan beberapa makanan khas, tapi bagi pecinta chinese food bisa-bisa setiap penjuru Lawang Suryakancana ditelusuri.
Mau Yang Modern Pun Ada
Minim Perubahan Dan Perawatan
Dengan semua hal yang bisa ditawarkan oleh Lawang Suryakancana, amat disayangkan kalau perubahan paling mencolok adalah tiga hal berikut ini, berdirinya gapura, kantor radio dangdut dan sebuah hotel megah, kedua bangunan ini sama sekali tidak cocok berada di kawanan sejarah. Saya saja sedikit shock melihat dua buah bangunan megah untuk kantor dan hotel ini, keduanya seperti salah tempat. Masa ada hotel bintang lima dan kantor radio dangdut di kawasan yang mau dijadikan ikon kota? Mau nggak mau ini mengingatkan kita akan salah asuhan dari kawasan Braga Bandung.
Lawang Suryakancana pun masih menyisakan beberapa bangunan lama yang tidak berpenghuni. Selain itu Lawang Suryakancana kerap dikerubuni tukang parkir liar dan preman, saya saja beberapa kali disantroni preman yang tanya "dari mana?" Gara-gara foto-foto pake dslr. Belum lagi perubahan jalur kota Bogor (Demi Pak De Yang Kangen Solo) membuat arah ke Lawang ini menjadi macet sekali.
Kalau mau lebih terasa unsur pecinan dari Lawang Suryakancana, datanglah pada malam hari dan pada imlek atau cap gomeh. Kalau sudah baca jangan ragu, memasukan Lawang Suryakancana ke dalam list weekend, sebab siapa tahu masih banyak hal tak terduga yang belum sempat dilihat di kawasan tempo dulu ini.
Baca Juga : Trip ke Desa Benteng Alla Sulawesi
Baca Juga :Kaum Urban di Kampung Areng Desa Cibodas
Baca Juga : Weekend di Pulau Pramuka
Baca Juga : Pesona Desa Kuno Muara Tenang Semendo
Buat yang lagi cari camping ground di Bogor tapi nggak rame ataupun manja, mungkin pengalaman gue bisa dijadikan referensi. Camping ground yang gue pakai ini terletak di Tenjolaya Bogor, memang sih masih dalam kawasan perkemahan Ciputri tapi camping ground ini seribu kali lebih menantang dari pada Cibubur dan sekitarnya.
Biasanya orang tahu Tenjolaya sebagai daerah terjadinya musibah sukhoi, namun banyak yang nggak tahu kalau Tenjolaya mempunyai beberapa tempat wisata yang sangat jarang diketahui. Wilayah Tenjolaya sendiri tergolong amat sangat luas, dan curug atau air terjun yang mau dibahas terdapat di Bogor atau tepatnya di perkemahan Ciputri. Alamat pastinya mohon maaf kurang tahu karena nebeng temen, tapi seinget gue sih daerah Ciomas ke atas.
Long weekend ini seperti biasa gue mau balik dari Jakarta ke Bogor, biasanya naik kereta tapi berhubung gue bawa peliharaan nggak ada opsi selain pakai mobil. Biasanya sewa mobil dan beserta sopirnya bakal dicharge terpisah dan kenanya pasti mahal banget. Iseng-iseng gue coba aplikasi yang lagi booming banget dikalangan warga ibukota buat transportasi, apalagi kalau bukan grabbike. Sebenarnya gue udah instal aplikasi grabbike dari jaman pertama ada, cuma baru dipakai sekarang. Karena kepepet maka gue coba untuk menggunakan salah satu fasilitas aplikasi ini, yakni grabcar.
Cuma berbekal telunjuk buat masukin data dan tinggal diem aja sampai nemu driver grabcar yang mau nganterin sampai Bogor. Ternyata ada driver grabcar yang ambil pesenan gue! Dan cepet pula sampainya, setelah gue tanya, kebetulan driver grabcar ini sedang melintas deket rumah. Tapi yang gue nggak abis pikir, adalah biaya keseluruhan sewa adalah Rp 179,000 saja, plus gue kasih tips sebesar Rp 50,000 jadi total yang harus dibayarkan adalah Rp 229,000 dan itu jauh lebih murah daripada sewa mobil+sopir atau naik taxi sampai Bogor.
Sopirnya bapak-bapak sekitaran 40 tahun dan ramah, cuma masalahnya gue kaga bilang tuh, kalau bakalan bawa dua ekor kelinci! Dan si bapak ini nggak ngeh, kalau tas besar warna orange yang ada jendelanya itu adalah pet cargo berisikan dua ekor hewan. Langsung aja gue taruh di kursi tengah dan sepanjang perjalanan berharap dua ekor kelinci ini nggak bakal bikin ribut.
Sekalipun gue berangkat jam 11 malem tetep aja kena macet di tol dalam kota slipi, ada sekitaran satu jam stuck disitu. Jadi nggak enak sama driver grabcar ini, soalnya gue yang maksa buat lewat tol biar cepet sampai, eh ternyata malah kena macet. Untungnya cuma macet di tol dalem kota yang berisikan orang-orang Jakarta yang mau long weekend ke Bandung, begitu masuk tol jagorawi lancar jaya. Dan gue pun bisa sampai rumah dengan selamat.
Nggak perlu takut bakalan kena charge lebih ataupun ada biaya tak terduga semisal isi bensin atau driver grabcarnya minta lebih, sebab dari awal sudah terdata. Jadi kalau ada apa-apa kita bisa protes dengan mudah, sebab recipent akan dikirim langsung ke email.
Note:
1. Sebenarnya tarif grabcar ini fluktuatif, contohnya waktu gue pesen sekitaran jam tiga sore, pricenya Rp 445,000 loh! Terus gue coba untuk pesen lagi ketika jam sebelas malam dan price cuma Rp 179,000.
2. Kalau mau cepet dapet driver grabcar, jangan lupa kasih tips sebesar-besarnya, gue pertama iseng kasih Rp 20,000 dan nggak ada yang ambil pesenan, begitu gue naikin jadi Rp50,000 langsung dah dapet.
3. Kalau kira-kira membawa banyak barang yang penuhin mobil harap kasih note dipesanan atau bilang ketika si driver grabcar telepon. Bukan apa-apa, karena grabcar ini adalah moda transportasi bukan moda angkut barang. Jadi bukan diperuntukkan untuk pindahan dan semacamnya, kalau sampai driver grabcar tahu dipakai pindahan etc, dia bisa nolak dan kita tetap harus kasih cancel fee.
Buat sebagian orang pasti mengenal daerah Parung Panjang sebagai jalan lintas saja, biasanya jalur Parung ini dipakai oleh sopir truk sebagai jalur alternatif antar propinsi. kalau buat orang Bogor pastinya jalur Parung ini dipakai sebagai jalanan alternatif ketika jalur biasa seperti tol jagorawi dsb macet parah.
Sejatinya Parung Panjang adalah sebuah kecamatan dari kabupaten Bogor, yang sama sekali tidak terurus oleh pemerintah pusat kota madya Bogor. Padahal ada sebelas kelurahan dan desa di kecamatan Parung panjang. Kecamatan ini juga merupakan daerah strategis karena dekat dengan Jakarta kalau saja Parung masuk kecamatan Jakarta sudah pasti akan jauh lebih maju.
Nah, belakangan nama daerah Parung Panjang santer terdengar karena sedang ramai-ramainya diincar oleh para pengembang sebagai daerah alternatif untuk perumahan, setelah Tangerang, Bekasi, Depok maupun Bogor over populated dan harga tanah menjadi selangit. Lantas gimana sih rupa dari daerah yang diprediksi bakalan happening dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan?
Pada jaman Belanda, taman topi adalah
taman kota bernama taman Wihelmina yang berfungsi sebagai
tempat istirahat dan cuci mata orang-orang yang baru saja datang dengan kereta
api. Karena memang tempatnya bersebelahan dengan station Bogor. Dalam rentan
waktu 130 tahun taman Wihelmina mengalami perubahan dan kerap kali berganti
nama, sampai pada tahun 1994 resmi berdiri taman topi.
Sejatinya nama asli tempat ini
adalah plaza kapten muslihat, tapi gegara banyak bangunan yang berbentuk topi
maka orang-orang menyebut tempat ini dengan taman topi. Walaupun gua jutaan
kali melewati taman topi namun baru dua kali masuk ke dalam. Yang pertama nggak
ingat, tapi waktu kecil sekitaran tahun 90-an dan yang kedua baru minggu lalu,
sekadar iseng saja.
Minggu kemarin gue menyempatkan diri untuk bertandang ke kebun binatang satu-satunya di ibu kota, ini adalah pertama kalinya datang ke Ragunan. Sebenarnya gue cuma penasaran aja, pengen tahu Ragunan itu seperti apa? Mumpung bukan long weekend dan aksesnya gampang pakai jalur busway, makanya gue beranikan diri untuk lihat tempat hiburan warga ibu kota menengah ke bawah ini.
Tampilan luar Ragunan ini tergolong rapi, bersih dan bagus padahal tiket cuma 5000 rupiah saja, no wonder Ragunan jadi tempat favorite warga ibu kota menengah ke bawah. Begitu masuk gue disuguhi jalanan besar dan sebuah kandang burung pelikan, awalnya seru aja lihat pelikan. Tapi lama-lama gue heran? Kenapa pelikan ini tidak terbang? Padahal kandangnya terbuka loh? Mereka cuma mengibaskan sayap saja dan berenang di kolam besar, padahal pelikan burung yang biasa bermigrasi jarak jauh loh, sangat mencurigakan.
Selanjutnya gue jalan-jalan ke belakang, tepatnya ke area rusa dan gajah. Sampai sini gue baru sadar kalau Ragunan itu parah banget, orang-orang yang datang seperti ke pasar. Terus banyak ABG kampungan yang hilir mudik dengan dandanan seperti penyanyi dangdut, ada yang pake kalung emas, kacamata hitam belum lagi banyak cewek alay yang datang pake baju super sexy! Buset dah, lo mau mangkal apa mau lihat binatang?
Dari sini gue udah mulai males dengan Ragunan! Tapi mencoba untuk melihat-lihat lebih banyak, dengan bergerak ke area karnivora dan primata. Nah, disini gue rada gimana getuh sama binatangnya, karena semua binatang nampak malas dan kegerahan! Belum lagi kalau gue perhatikan sepertinya banyak yang overweight.
Racoon ini ukurannya dua kali lipat dari pada yang biasa dilihat di film-film. |
Sedang mencari
mobil murah atau mau beli mobil bekas yang murah? Terus bingung dengan bursa
mobil yang ada. Mungkin aja mobil listrik bisa jadi pilihan buat kalian yang
ingin cari mobil murah dalam segala hal termasuk perawatan dan bensin. Minggu
kemarin kebetulan gua dapat kesempatan untuk datang ke sebuah produsen
kendaraan bertenaga listrik dan menjajal salah satu prototype mobil listrik
mereka. Salah satu prototype yang gua cobain adalah mobil “ibu-ibu ke pasar”
ini, sekilas bentuknya memang kecil sekali dan hanya hanya mampu muat empat orang
dewasa dengan ukuran standar orang Indonesia. Kesan yang mungkin aja nempel
begitu lihat mobil listrik ini adalah
mirip mainan di wahana taman bermain. Bahkan untuk ukuran city car saja mobil “ibu-ibu ke pasar” ini jauh lebih kecil, dan
gua berani jamin bisa masuk gang-gang sempit Jakarta.
Sekalipun
terlihat sangat mainan tapi mobil listrik ini punya semua fitur di mobil
sungguhan, maksudnya mobil bensin. Mulai dari power stering, wiper, lampu sen,
audio stereo sampai ac. Jadi jangan takut kalau mobil listrik ini nggak mampu
berfungsi sebagaimana mobil bensin.
Masih ingat dengan mainan kaleng tahun 80-an? Sekarang ada yang namanya Tin Industry sebuah brand yang menjual beragam mainan kaleng dengan vintage look. Maksudnya adalah mainan kaleng yang diproduksi di jaman sekarang tapi tampilannya mengikuti vintage toys. Jadi buat kalian yang kangen sama mainan jadul tapi nggak nemu atau beli di kolektor mahal, lebih baik pesan lewat Tin Industry.
Tin Industry punya beragam bentuk mainan kaleng, mulai dari yang berbentuk robot sampai dengan bianglala dan tukang es krim. Mainan kaleng ini nggak sesederhana kelihatannya, karena mereka didesign sedemikian rupa dengan mekanisme mekanik supaya bisa gerak. Cara menggerakan mainan kaleng ini pun jadul abis, karena setiap mainan dilengkapi oleh kunci putar.
Sabtu (26/10/2012) kemaren gue
dapet tugas buat ngeliput soundfair, ituloh
event musik paling baru dari java festival production. Katanya sih ini
buat gantiin java rockin land, nggak tanggung-tanggung artis yang dipajang buat
tiga hari festival bejibun mampus dah. Karena gue cuma ambil yang hari Sabtu
aja jadi dapetnya Maliq, Tulus sama Cody Simpson. Bergubung gue nggak antusias
sama musik lokal jadi males in deep sama Maliq and Tulus, mau nggak mau yang sreg ama kuping cuma si
bule aussie ini.
Buat yang baru pertama kali baca, ini ditulis jauh (2014) sebelum Koh Ahok, keselibet lidah di pulau seribu
Untuk pertama kalinya dalam sejarah Jakarta punya Guberur yang non Muslim dan non pribumi. Dan saya termasuk orang yang beruntung dapat undangan makan siang bersama Basuki Tjahaya Purnama atau Koh Ahok. Sebenarnya ini semacam acara open house, jadi isinya Cuma ditraktir Koh Ahok sama ngalor-ngidul kemana-mana.
Kesan pertama
yang didapat waktu maksi bareng adalah, Koh Ahok itu ternyata tinggi dan
besar! Selama ini saya lihat di TV, Ahok terlihat kecil atau seukuran average
orang Indonesia umumnya. Orangnya pun ceplas-ceplos nggak jaim dan kaga banyak
basa basi busuk, dengan bebasnya kita bisa tanya apapun termasuk urusan pribadi
mengenai keluarganya.
Karena bebas
tanya dan suasana santai, ada beberapa orang yang emang sengaja tanya rencana
Koh Ahok kedepannya pas jadi Gubernur nanti.
Dari sini saya tahu kenapa Jokowi pilih Ahok, karena Jokowi untuk
birokrasi sementara Ahok untuk praktisi bisnis. Mungkin karena basicnya Chinese
Ko Ahok jago banget mengatasi permasalahan tanpa mengorbankan nilai ekonomi.
Kali ini gue dapet kesempatan buat interview salah satu Youtube sensation, namanya Eka Gustiwana dan dia tenar berkat speech composing Arya Wiguna "Demi Tuhan" serta Jeremy Tety "BBM". Bertempat di rumahnya daerah teluk Gong. Eka Gustiwana menyulap rumahnya menjadi sebuah studio, setelah face to face ternyata orang amat ramah dan banyak hal yang tidak ketahui orang-orang mengenai pencipta sensasi speech composing ini.
Siapa sangka kemarin gue dapet tugas buat ngeliput interview dubes Palestina di Jl. P. diponogoro no 44 menteng pas banget di depan kantor PPP. Pertama kali lihat sih rada syok gimana gituh, soalnya ini bukan kali pertama masuk kedutaan besar tapi ini pertama kalinya gue masuk kedutaan yang bentuknya rumah biasanya tanpa penjagaan ketat. Kalau nggak merhatiin emblem yang dipasang di depan pager, udah pasti nggak bakalan ngeh kalau ini sebuah kedutaan besar.
Pas masuk pun gue sempet gimana gituh, percaya nggak percaya kalau ini sebuah kedutaan besar. Karena biasanya begitu kita masuk beragam security bakalan obrak-abrik bawaan plus scanning badan. Kalau kedubes Palestina ini macem kita maen ke rumah temen aja gituh. Selama 40 menit kita sempet nunggu di ruang tunggu dan selama itu pula ruang tunggu hilir mudik dikunjungin sama orang-orang yang mau nyumbang buat gaza. Bahkan ada majelis taklim yang dari banjarmasin bela-belain dateng buat kasih langsung duit dari pada transfer, orang ini sampe tanya kalau gaza dari al-aqsa berapa jauhnya? Serta segala rupa keadaan di sono lengkap dengan sumpah serapah bahwa kaum yahudi bakalan di laknat ketika judgement day. Sekretariat yang menghadapi orang ini cuma angguk-angguk kepala, soalnya bahasa Indonesia dia pas-pasan, jadi kaga ngarti tuh koar-koar penyumbang dari majelis taklim banjarmasin ini.
Bulan lalu gue
dapet tugas dari kantor buat ikutan hip hip hura hura ke tempat yang namanya
selama ini gue kenal dari sticker yang bertebaran di mobil-mobil keluarga. Cuma
modal 60 rebu udah termasuk maksi dan naik semua wahana. Yup…….awalnya tempat
yang bernama Jungle Land ini adalah sebuah taman besar yang biasa dipake ngampar
makan sama keluarga.
Ternyata oh
ternyata Jungle Land yang bertempat di sentul city ini adalah sebuah theme park
layaknya Dufan, walaupun gue nggak ngerti sebelah mana junglenya. Konsep tempat
ini apa sih? Hutan tapi nggak ada satupun yang bernuansa hutan, kenapa nggak
dinamain The Fun atau apalah.
Banyak orang yang mungkin belum mengetahui kalau kebun raya Bogor lebih dari sekadar taman nan luas, sebab tempat ini juga diperuntukan sebagai lahan pembibitan berbagai tanaman. Nah, salah satu dari lahan pembibitan di kebun raya Bogor ini ternyata dibuka untuk umum, bahkan disediakan pula tempat display untuk menikmati hasil pembibitannya. tempat yang saya maksud adalah orchidarium dan rumah anggrek, kalau untuk rumah anggrek pasti semua orang sudah tahu, sementara banyak yang kurang sadar mengenai keberadaan orchidarium. Tempat ini biasanya dikunjungi karena sepi dan rimbun, jadi banyak abg yang mojok getuh dah. Padahal di orchidarium kita bisa mengamati bagaimana pertumbuhan berbagai macam bunga anggrek.
Rumah Anggrek
Terletak di dalam kebun raya Bogor, bagi
para pecinta anggrek mungkin ini tempat tujuan paling memuaskan. Sebab rumah anggrek menyediakan berbagai
jenis anggrek yang bisa langsung di bawa pulang jika anda berminat,
rumah anggrek sendiri adalah sebuah taman display untuk memamerkan
anggrek hasil budidaya kebun. Walaupun sebenarnya bisa juga disebut sebagai rumah kaca khusus anggrek.
Orchidarium
Jika rumah anggrek tempat untuk memamerkan maka orchidarium adalah tempat untuk menumbuhkan bunga anggrek, sejatinya orchidarium berarti tempat atau lingkungan baik terbuka maupun tertutup untuk mengembangbiakan tanaman anggrek. Orchidarium terletak di bawah rumah anggrek dan tidak selalu terbuka untuk umum, mungkin karena belum musim panen orchidarium ini diperbolehkan dibuka. Jika rumah anggrek taman tertutup maka orchidarium adalah taman terbuka, di sini berbagai inang atau bibit anggrek dengan bebas ditaruh di seluruh penjuru taman. Jika musim anggrek mekar maka orchidarium ini menjelma menjadi taman bunga namun saya tidak tahu apakah ketika anggrek mekar, orchidarium diperbolehkan untuk umum.
Subscribe to:
Posts (Atom)